RSS

Refleksi 30 Mei 2010 – 30 Mei 2012

Sedikit kaget dengan isi pesan di kotak masuk handphone pagi hari ketika ingin berangkat kuliah dan isinya sebuah ucapan selamat. Kurang lebih seperti ini isinya “Happy Anniversary”. Dengan mengerutkan dahi sedikit dan berpikir sejenak, siapa yang ulang tahun? Ternyata ini adalah tanggal dimana dua tahun silam menjadi salah satu sejarah hidup.

Ya sejarah, sejarah yang terukir manis karena dua tahun silam diri ini dan 233 orang mengikuti yudisium dan haflah ikhtitam kelas akhir di salah satu lembaga pendidikan islam terkemuka di Medan. Lembaga yang dengan sangat hanif mengajarkan tuntunan berkehidupan bermasyarakat dan bersikap. Lembaga yang dengan sangat ikhlas mendidik putra-putrinya untuk “membesarkan” dirinya dengan nafas Islam. Lembaga yang pastinya akan selalu terukir di salah satu bilik hati setiap insan yang pernah mengenyam hidup di dalamnya.

Raudhatul Hasanah namanya, dan Taman Bahagia artinya. Ya taman yang diindikasikan sebagai oase polusi di tengah kebingaran kehidupan metropolis. Bahagia karena ia akan selalu menjadi saksi bisu atas kebahagiaan insan yang bermadu cinta dengan keluarga dan orang tua (tidak untuk pacaran hehe) dan kerabat yang tersayang. Saksi bisu atas seutas tawa dan untaian senyuman yang tersungging di setiap bibir dan wajah manusia. Dengan kesegarannya taman selalu menjadi pelengkap kebahagiaan. Begitulah saya menafsirkan makna dari nama tersebut, karena menurut saya itulah alasan nama itu dipilih sebagai nama lembaga pendidikan ini.

Masih segar ingatan ini akan pagi dimana kamar-kamar berantakan dan penuh akan kotak kardus dan tumpukan baju-baju yang disisihkan untuk diinventariskan (bahasa yang digunakan untuk mewakili kegiatan memberi barang sebagai kenang-kenangan kepada adik kelas) kepada siapapun yang dirasa pantas mendapatkannya atau hanya sekedar menyenangkan mereka saja. Dan tradisi ini akan terus berlangsung sampai kapanpun.

Selain itu koper-koper berisi baju yang siap dibawa pulang juga telah siap disisihkan. Beberapa agenda alumni masih ada yang bergeletakan harum parfum dan canda-candaan ringan tercipta natural, ada yang duduk-duduk bahagia dengan jas biru dongkar (atau apapaun warnanya karena saya tidak begitu mengenal warna) dan kopiah yang gagah diletakkan di atas kepala. Ada juga yang berdiri di depan cermin dengan seutas senyuman bangga, ada yang masih berlari-lari dari kamar mandi dengan membawa handuk dan ember kecil untuk keperluan mandi (tapi yang ini jarang sekali). Dan lonceng makan terdengar berkali-kali. Ah perih hati ini, kenangan itu musnah sudah. .

Langkah-langkah gagah para siswa-siswi akhir mantap berjalan dengan sepatu haibah (istilah sepatu pantofel karena haibah itu berarti wibawa dan mereka yang memakainya akan kelihatan berwibawa jika memakainya) beriringan menuju dapur. Langkah yang sangat menawan karena iramanya santai dan sangat kompak, bukan langkah-langkah cepat berjalan atau berlari kecil karena terlambat masuk kelas atau ke dapur. Dan inilah sesi makan terakhir di dapur yang panjang dan luas ini. Dapur yang juga menjadi saksi atas luapnya para santri melahap hidangan setelah kelaparan.

Keharuanpun merebak sangat saat MC acara memanggil dengan bahasanya para wisudawan dan wisudawati untuk memasuki hall acara. Dengan beribu pasang mata yang memandang dan riuh redam suara tepukan tangan yang membahana membuat bulu kuduk para kesatria biru naik. Ya inilah saatnya, saat dimana kemenangan setelah sekian lama hidup di atas awasan, bimbingan dan tekanan (bagi yang merasakan) dari para pendidik dan para senior. Puas atas keberhasilan menjadi alumni yang akan diwisuda beberapa waktu lagi. Puas atas terselesainya ujian yang menceka. .

Tulisan inipun dibuat dengan sedikit tetesan air mata yang mewakili rasa hati akan kerinduan pada saat itu, pada saat-saat dimana kita bisa tertawa bersama. Kita bisa melaksanakan segalanya dengan bersama-sama, kita pernah merasakan saat cemas pada pagelaran seni kita, kepanitiaan kita, pertanggung jawaban kita karena itu semua mempertaruhkan nama besar marhalah kita. Berlari menghindar dari teriakan qismul amn atau KMI di pagi hari dan pada moment-moment lainnya.

Kawan, masih adakah ingatan itu? Masih adakah ruang untuk kau tempatkan kebersamaan ini, ruang untuk menceritakan rangkulan hangat terakhir di masjid sore it? Tetesan air mata yang terjatuh di salah satu jas kita atau baju apapun yang kau kenakan sore itu, sore yang paling sendu dan penuh khidmat itu? Masih adakah ruang untuk mengingat persis saat-saat ini?

Bagaimanapun juga kita sudah menjadi keluarga, dan keluarga yang baik akan selalu berusaha memperbaiki keluarga lainnya. Yuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Apa saja yang sudah kau lakukan dua tahun terakhir ini? Masa depan masih panjang kawan, siapkanlah senyuman dan kegiranganmu untuk masa depan cerah nan indah di dunia dan akhirat kita. Hidup butuh perjuangan dan jadilah kader raudhah yang lebih mendunia. Kader Islam yang terus menjunjung nilainya dan menjadi prajurit Alloh untuk menang pada kebathilan. Barakallah saudaraku semoga kita masih diberikan umur panjang untuk melanjutkan hari-hari penuh perjuangan di masa mendatang.

Dalam dekapan ukhuwah Saudaramu,

M. Nurul Hamdi

Malang, 30 Mei 2012

NB. Selamat ya buat Santo yang sudah menjadi calon bapak. Semoga kita bisa menyusul ya. Hehe Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khoir. Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. amin

 
Leave a comment

Posted by pada Mei 30, 2012 in My Life

 

Metamorfosa Implementasi Zakat

Islam sangat konsen terhadap pembangunan sosio-ekonomi rakyat. Islam mempunyai perhatian yang tinggi untuk melepaskan orang miskin dari kemiskinan dan keterbelakangan, tanpa harus didahului oleh gerakan revolusi kaum miskin dalam menuntut perubahan nasibnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa zakat sangat berpotensi menjadi  sarana yang efektif untuk pemberdayaan ekonomi umat. Seharusnya tidak ada lagi masyarakat miskin di negeri ini. Namun, realitanya di Indonesia sudah terlalu banyak jumlah keluarga yang berada dibawah garis kemiskinan. Hal ini berbanding lurus dengan banyaknya anak jalanan yang mengabaikan pendidikan mereka untuk ikut mencari uang demi menopang kebutuhan keluarga. Melihat fenomena-fenomena kemiskinan di masyarakat kita, apakah zakat yang selama ini dikenal masyarakat umum masih dapat dikatakan sebagai sarana yang efektif untuk pengentasan kemiskinan? Atau perlukah zakat mengalami perubahan implementasi? 

Yusuf Qardhawi menyatakan dalam bukunya “Fiqh Zakat” bahwa Zakat adalah ibadah maaliyah ijtima’iyyah yang memiliki posisi sangat penting, strategis, dan menentukan, baik dilihat dari sisi ajaran Islam maupun dari sisi pembangunan kesejahteraan umat (Qardhawi, 1993).

Menurut riset Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB, nilai potensi zakat secara nasional 2011 mencapai angka Rp 217 triliun. Meski demikian, 98% dari nilai tersebut masih dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat sehingga terkesan stagnan dan tidak terbaharukan.

Zakat yang dikaji dalam ilmu fiqh sebagai pembagian sebagian harta dari hasil panen, kerja, dan zakat fitrah kepada orang-orang yang berhak menerima zakat (mustahiqq az-zakat), saat ini dapat dilenturkan menjadi hal yang lebih mudah diaplikasikan.

Sikap ini juga berdampak pada ketidakpedulian terhadap permasalahan yang terjadi atau kita hanya menutup mata dan telinga tak ubahnya seperti ingin lari dari kemelut negeri ini?  Dan kita ternyata justru memberikan andil pada hal tersebut. Atau memang kita dibentuk dan dikader untuk meneruskan “perjuangan” mengacaukan zakat yang luar biasa tersebut.

Terbukti dewasa ini, zakat terus saja dijalankan dan mereka yang tidak mampu tetap saja menunggu penuh harap di balik pintu rumahnya tanpa berkenan menggerakkan langkah kaki dan ayunan tangan untuk sekedar memperoleh pangan dan sandang. Begitu juga sebaliknya mereka yang mampu dan mau mengeluarkan zakat terus saja menunaikannya. Hal ini sungguh menggiriskan jika terus berlangsung seperti ini. Apa bedanya berzakat dengan tidak, bila esensi yang diusung dari zakat tersebut tak kunjung menjadi padu. Zakat tidak lagi efektif sebagai solusi pengentasan kemiskinan. Statement inilah yang pantas mewakili kondisi ini.

Betapa tidak, zakat hanya dirasakan oleh mereka yang tinggal disekeliling sumber amilnya, sehingga amil juga tidak merasa direpotkan pada saat penyaluran. Ia akan lebih senang memberikan zakat tersebut tanpa direpotkan oleh hal ini. Sekilas, konsep ini layaknya simbiosis mutualisme, tapi tetap saja ada banyak pihak yang dirugikan walaupun tidak terlibat secara langsung. Tapi istilah simbiosis parasitisme juga tidak relevan karena kedua pihak yang terlibat secara langsung tidak seketika terbentur masalah. Tanpa disadari dilematis akut ini yang menjadi sebab efektifitas zakat berkurang secara signifikan.

Belum lagi sistem yang terbentuk pada alur berzakat ini masih sangat minim dan terbatas. Sehingga terlalu banyak biaya operasional yang dialokasikan pada proses penyaluran dan kegiatan lainnya. Undang-undang zakat yang kontroversial, terkesan mencari keuntungan berkedok pahlawan dan lain sebagainya juga memiliki sumbangsih negatif terhadap zakat itu sendiri. Mungkin saja masyarakat akan semakin penat pada praktik zakat yang terjadi setiap tahunnya dan menunaikan zakatnya sendiri pada siapa yang ia kehendaki tanpa menghiraukan statuta zakat yang seharusnya, sehingga jurang kesenjangan itu semakin panjang terbentang karena tidak tepat sasaran.

Begitu juga dengan kondisi lembaga amil zakat pada masjid-masjid yang cenderung musiman dengan bekal seadanya untuk sekedar mejeng nama di tataran remaja masjid panitia amil zakat. Carut marutnya pengelolaan zakat yang ada di tataran ini berperan pada semakin buruknya peran zakat, karena merekalah yang bersentuhan langsung dengan lingkungan sosial masyarakat.

Jika kita sedikit menguak sejarah, Rasulullah dengan segala rintangan yang dihadapi mampu dengan sangat gemilang membuktikan kehanifan dan pentingnya peran zakat pada keberlangsungan masyarakatnya. Tentu saja fasilitas yang digunakan untuk mengimplementasikan zakat pada masa itu tidak seindah pada zaman sekarang. Bahkan bisa dikatakan amat memprihatinkan.

Namun hal itu bisa dilaksanakan sebab masing-masing individu penggeraknya menguasai betul nilai-nilai normatif yang diusung oleh Rasulullah berdasarkan Qur’an dan Hadits. Sayangnya kita belum bisa mengikuti perjuangan yang para pendahulu lakukan, sehingga berdampak pada miskinnya inisiatif dan gagasan serta perilaku. Pada akhirnya zakat kehilangan jati dirinya dan berdiri seakan tanpa arah, sempoyongan tak menentu.

Solusi Zakat Dewasa Ini

Zakat sebagai pengentas kemiskinan, sudah tidak bisa dipatahkan oleh argumen apapun dan itu sudah menjadi harga mati jika benar-benar jati dirinya melekat erat tanpa sekat. Jumlah muslim di Indonesia yang terbilang besar ini tentu menjadi nilai tambah. Meski dalam tataran praktis, alternatif pengentas kemiskinan lainnya di negeri ini semakin ditentang dan sarat akan kepentingan para elite negara. Namun hal yang harus kita camkan, zakat merupakan hal yang begitu sakral untuk dikhianati dan disalahgunakan atau hanya sekedar ditunggangi untuk mencari kepentingan semata.

Tidakkah kita merenung sejenak atas pepatah kuno “the right man in the right place”. Esensi hal ini sungguh menjadi solusi konkret pada permasalahan yang terjadi. Yang benar-benar mampu dan sanggup menangani problematika zakat dewasa ini hanyalah mereka yang beriman dan menguasai betul labirin terdalam pada fiqh zakat yang begitu kompleks.

Zakat memanglah suatu instrumen yang dibutuhkan negeri ini. Akan tetapi di luar dari pada itu, ada satu hal yang mungkin selalu terlewati dan terlupakan. Para pengamat pertumbuhan negeri yang dikatakan “surga” ini berulangkali menyatakan bahwa Pemerintah begitu sering lupa atau pura-pura lupa dengan pembangunan moral masyarakatnya, dari atas, yang paling tinggi hingga ke yang terbawah, yang tertindas, dan yang terpinggirkan. Kejujuranlah kuncinya, pendidikan morallah yang menjadi dasar dari segala, dan dilajutkan dengan pengelolaan zakat sesuai fiqh zakat. Dan bekal ini tidaklah instan, apalagi karbitan. Namun butuh pendalaman dan niatan luhur.

Kejujuran mendatangkan kemaslahatan, kejujuran mendatangkan lurusnya niatan, dan kejujuran mendatangkan surga dunia juga. Akhirat yang dijanjikan. Biarlah kita masih membicarakan tentang bumi sementara yang lain telah membicarakan tentang bulan, itu lebih baik daripada kita sekadar ikut-ikutan tanpa mampu memiliki pesawat yang bisa kita naiki untuk buktikan teori.  Wallahu a’lam.

By. Muhammad Nurul Hamdi with Seviawati Polinggapo and Asri Aisyah (Karya yang dilombakan pada Festival Ekonomi Syari’ah 2012 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

 

 
Leave a comment

Posted by pada Mei 21, 2012 in Economy

 

Nomor 23 (Sebuah Cerita)

Ranking 23 : “Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya.

Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati. Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar.

Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya. Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak  kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak.

Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya kami ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah? Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi,tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi.

Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat.Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.

Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja.
Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini.
Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.
Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira.
Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing.
Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku. Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu.

Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Dia pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama. Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini.
Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami? Mari kita syukuri apa yg kita miliki, banyak sekali hal2 yg kita miliki namun seringkali kita melupakannya.

 
2 Comments

Posted by pada Februari 12, 2012 in Pendidikan

 

Menulislah!!! Hatimu kan senang

Menulis itu sama dengan menyampaikan isi hati atau apapun yang terlintas dalam benak kita tidak sebatas pada ucapan lisan. Dalam menulis, ucapan itu menjelma menjadi kata-kata yang tidak hanya bisa diterima orang pada waktu dia menyampaikannya saja, namun kapanpun maksud hati kita bisa diterima. Maka tak diragukan lagi kata-kata sastrawan dahulu, seakan buku bicara. Ya dia memang bicara, dan perbincangannya itu tidak terbatas oleh ruang dan waktu, dimanapun dan kapanpun omongan itu masih trus dapat diterima dalam bentuk kata-kata.

Menulis itu merupakan budaya pelajar paling efektif sedunia dan budaya masyarakat bermartabat kata beberapa filsuf. Karena ilmu itu dapat tersalurkan ke siapa saja dengan bahasa yang gamblang dan jelas serta tidak memakan tenaga terlalu banyak karena harus berbicara menyampaikan ilmu pengetahuan kepada seluruh dunia, namun dengan tulisan seluruh belahan dunia dapat menikmati samudra ilmu dari tangan siapapun juga. Bahkan jika eksemplar tulisan asli itu masih di jaga, selama bumi belum berhenti berputar, dan selama matahari belum bosan menjalani titah Rabbnya, maka tulisan itu masih terus dirasakan manfaatnya oleh orang banyak.

Menulis juga bisa menjadi media curhat paling ampuh, karena tulisan tidak akan mungkin mau melanggar janji untuk tidak membeberkan rahasia peribadi masing-masing. Dan tulisan itu nantinya dibacakan pada saat raga bersimpuh sujud kehadapan Ilahi Rabbi setiap saat untuk diberikan kemudahan dan solusi dari masalah yang ada. Ayat-ayat Alloh juga kalo tidak dituliskan dalam bentuk Qur’an yang sekarang ini, kita tidak akan mungkin dapat terus merasakan bagaimana indahnya dunia dengan harmonisasi aturan dan hikmah yang ada dibalik ayat-ayat tersebut. Subhanallah..

Menulis juga mengurangi kebisingan dunia yang saat ini sudah mencapai tahap yang lumayan parah karena tidak ada lagi sisi lain dari bumi ini yang terbebas dari hiruk pikuk dunia. Dengan menulis, kita bisa menyampaikan maksud yang kita ingin sampaikan kepada orang lain. Bahkan saat ini manusia sudah sangat dituntut untuk berkomunikasi lewat tulisan. SMS (short massage service) bukankah dengan tulisan???

Jadi, apa masih ada alasan lain untuk tidak menulis?? Ayo menulis…
Trus timbul pertanyaan, menulis itu membingungkan, aku tidak terbiasa nulis? Apa ya yang mau ditulis??

Pertanyaan itu sangat mudah untuk dijawab. Dan saya mencoba membuat jawaban bagi siapa yang masih merasa ragu atau belum berminat untuk menulis
1. Bukankah setiap hari anda berbicara? Coba hemat obrolan anda dan tulislah apa yang ingin anda obrolkan dengan orang lain. Dan anda akan secara otomati akan MENULIS
2. Bukankah setiap hari anda menerima materi dari guru di kelas? Rekamlah sesekali dan coba tulislah ulang materi tersebut. Jika ini anda lakukan maka ilmu yang ditransfer oleh guru anda akan dengan sangat kuat menempel dan lekat sekali, bahkan segar tersave di memori kita. Dan anda akan secara otomati akan MENULIS
3. Bukankah setiap hari anda selalu merespon berita yang anda terima dari media manapun? Walau anda kesal, atau senang dengan berita itu, cobalah sesekali tulis dan berikan tulisan anda itu ke teman anda, jadi bisa menghemat tenaga ketika berbicara. Dan anda akan secara otomati akan MENULIS
4. Bukankah setiap hari anda selalu meluapkan perasaan anda setiap hari dari siapapun yang anda temui hari itu? Coba ungkapkan dalam bentuk tulisan, anda juga pastinya akan dengan senang hari suatu saat membaca tulisah tersebut. Dan anda akan secara otomati akan MENULIS
5. Bukankah setiap hari anda melamun dan secara tiba-tiba bercita-cita akan suatu capaian? Tulislah capaian itu dan tempellah ia di manapun yang sekiranya dapat anda baca sesering mungkin, agar menjadi motivasi anda untuk mencapainya. Dan anda akan secara otomati akan MENULIS

Menulis itu hanya ada dua pilihan, mau atau mau. Jadi silahkan menulis dan rasakan besarnya manfaat yang akan anda raih dengan tulisan itu. Semoga bermanfaat..

 
Leave a comment

Posted by pada Februari 2, 2012 in My Life

 

Kontrak kerja karyawan KOPMA

Menjalani hubungan kerja dengan mereka yang lebih tua umurnya terkadang memang butuh penyesuaian lebih dan harus serba hati-hati. Apalagi kalo secara struktural mereka pada posisi “bawahan” kita. Serba dilema dalam setiap kebijakan dan peraturan yang diberlakukan kepada mereka. Karena secara psikologi memang tidak bisa dipungkiri lagi, mereka merasa lebih berpengalaman dan lebih mengerti dari seluk beluk tugas dan lingkup kerja yang mereka jalani. Dan tidak jarang terjadi ketidak-cocokan yang terkadnag berakhir dengan retaknya hubungan baik antara kedua belah pihak.

Begitu juga seperti yang saya alami hari ini. Agenda hari ini adalah lanjutan dari pembahasan dari tawaran kontrak karyawan yang sudah diberikan beberapa hari sebelum hari ini. Dengan tujuan agar mereka bisa mempelajari isi kontrak dan gambaran kerja mereka pasca kontrak berlangsung. Karena memang karyawan yang ada di Kopma seluruhnya karyawan kontrak.

Sehari sebelumnya, pembahasan terfokus pada hasil rapat, dan spesifikasi tugas yang kebetulan kurang begitu dipahami oleh pihak karyawan. Begitu juga dengan hal-hal kecil lainnya yang dirasa memang perlu dibahas agar nantinya tidak terjadi kesalahpahaman dan kebingungan nantinya. Walaupun yang hadir  pada pertemuan hari pertama tidak sebanyak pada hari kedua, namun beberapa permasalahan dan pertanyaan sudah dapat dijawab dan diselesaikan dengan bijak. Namun entah sampai kapan tekanan batin yang sering mengganggu kejernihan dan kebijakan dalam mengambil keputusan itu tetap bersemaiam dalam diri ini. Tapi saya yakin itu proses pertumbuhan alami pada diri setiap manusia dan ini semua akan bisa teratasi sesegera mungkin, biidznillah.

Tulisan ini memang terkesan seperti curahan hati, namun semua ini saya niatkan untuk berbagi dan saling menambah ilmu dan pengalaman kepada siapa saja, karena suatu saat kita pasti akan menglami seperti apa yang pernah dialami orang lain dan kita kebingungan untuk bertindak. Bukankah sebaik-baik manusia itu adalah mereka yang bermanfaat bagi sekitarnya?

Kemudian pembahasan hari selanjutnya membahas tentang imbal jasa serta tata tertib secara teknis pada saat operasional toko berjalan juga dengan hal-hal seperti perizinan dan lain-lainnya. Tapi saya sendiri masih bertanya-tanya, apa memang kontrak itu harus dibahas bersama mereka yang akan dikontrak? Dan sejauh mana intervensi yang dapat diberikan calon kontrak kepada yang akan mengontrak. Namun saya pribadi menganggap untuk memberikan kontrak otomatis kita memberikan penawaran kepada mereka yang bakal dikotrak dan harus ada kesepakatan antara kedua belah pihak, namun sang pengontrak juga harus memiliki batasan, sejauh mana pembahasan dan forum tanya jawab kedua belah pihak berlangsung. Sehingga atmosfer profesional tetap terjaga, walaupun pihak kedua itu secara umur lebih senior dibandingkan dengan pihak pertama.

Dan untuk lebih mempermudah, saya coba menarik poin penting ketika berhadapan dengan karyawan atau kolega apapun lebih senior dari segi umur.

1.    Menjaga kedisiplinan dengan tegas pada diri sendiri
2.    Menjadi penutan bagi mereka, karena akan tercipta rasa sungkan ketika berhadapan kepada atasan yang memberikan contoh langsung
3.    Menjaga komunikasi yang baik dengan menggunakan sikap dan bahasa yang mudah dicerna dan disampaikan dengan santun agar tidak menyinggung perasaan lainnya
4.    Melakukan pendekatan secara persuasif dan lebih edukatif agar merasa dihargai
5.    Mengapresiasi segala bentuk masukan yang ditujukan kepada kita dengan kata-kata dan sikap yang baik
6.    Terus melakukan evaluasi dengan mencari faktor-faktor atau meneliti setiap perubahan dan kegiatan yang ada, karena dengan adanya evaluasi dan riset tersebut dapat meminimalisir permasalahan.

Saya merasa ini sangat penting terutama bagi para mahasiswa aktifis koperasi yang diamanahi sebagai ketua umum, adminkeu dan bidang usaha yang seringkali memiliki permasalahan yang sama dalam meghadapi karyawan. Tapi satu hal yang harus kita ingat bahwa karyawan memiliki peran yang juga penting dalam peningkatan dan perkembangan kopma, maka dari itu kelakuan dan etika dalam bekerja juga harus terus dijaga dan ketika karyawan sudah merasa nyaman dengan lingkunga kerja yang  diciptakan maka hubungan antara kedua belah pihak akan menjadi lebih baik.
Semoga bermanfaat, terima kasih, wassalam. . .

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 31, 2012 in Kopma Padang Bulan

 

Prospek daya saing UKM dalam pengembangan perekonomian di Indonesia 2012

Usaha kecil menengah (UKM), merupakan salah satu gerakan pemberadayaan ekonomi rakyat dalam skala kecil ataupun pemula. Dari namanya sendiri sudah jelas bahwa lingkupannya juga tidak sepeti bisnis lain yang sudah go internasional seperti perusahaan pada umumnya. Bahkan dewasa ini, Indonesia menjadikan UMKM menjadi sebuah terobosan baru bagi peningkatan perekonomian masyarakat dari kalangan bawah.

Dalam hal ini, pemerintah mulai membentuk lembaga pendukung dari program ini, diantaranya koperasi dan lembaga keuangan mikro yang menyokong pendanaan dan bantuan kredit bagi suksesnya program ini. Tak heran jika sering kita dengar Koperasi Sehat Perekonomian Rakyatpun Kuat. Jargon ini dalam realitanya bukan sekedar jargon biasa, tapi memang dapat dibuktikan secara nyata di lingkungan sekitar kita. Bahkan dalam jajaran kepresidenan di Indonesia terdapat kementrian yang mengurus khusus bagi lembaga dan program ini, yaitu Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

Perkembangan UKM dari tahun ke tahun semakin menunjukkan efektifitas dari program ini, ditambah lagi masyarakat yang mulai sadar akan kemandirian ekonomi tanpa harus terus menerus mengharap bantuan dari pemerintah. Dan memang dalam proses awal dari perjalanan UKM pada umumnya selalu terbentur masalah klasik yang dewasa ini sudah semakin terperbaharukan dengan tumbuh suburnya lembaga keuangan mikro di lingkungan pedesaan dan pinggiran kota. Ditambah lagi geliat perkembangan ekonomi islam di Indonesia yang kemajuannya sangat signifikan dilihat dari statistik perkembangan lembaga keuangan Syari’ah, baik itu skala kecil (koperasi) maupun makro (Bank).

Prestasi-prestasi yang membanggakan dari program ini terus menunjukkan eksistensinya di dunia bisnis nasional maupun internasional. Tak heran, dewasa ini semakin banyak home industry yang mengekspor hasil produksinya ke luar negeri dan tentunya ini merupakan dampak yang sangat baik bagi perekonomian Negara.

Hal ini karena kreatifitas dan keunikan produknya yang artistik dan selalu khas akan daerah masing-masing, ataupun juga pembaharuan dari insan-insan pekerja yang terlibat. Semuanya begitu sepadan dengan lingkungan kerja yang tidak terlalu mengikat dan cenderung menyenangkan, apalagi nuansa keakraban acap kali muncul di sela-sela jam kerja. Hal ini sangat bertolak belakang dengan perusahaan-perusahaan besar yang ada pada umumnya.

Dalam artikel yang dirilis oleh Susylo Malsayah dalam artikelnya Ekonomi Kreatif Harus jelas arah dan Tujuannya dalam website http://www.sentrakukm.com/index.php/artikel/194-ekonomi-kreatif menyatakan,  sumbangan industri ekonomi kreatif seperti seni, musik, fesyen, dan periklanan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat. Selain itu masih ada bagian dari pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk meningkatkan terus industri ekonomi kreatif termasuk perlindungan atas Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI).

 

Pasalnya industri ini merupakan hasil dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu.
Industri ekonomi kreatif merupakan basis dari karakter dan simbol kehadiran Bangsa Indonesia di tengah pergaulan antar bangsa-bangsa di dunia.

Kita dapat melihat betapa program ini semakin menunjukkan sumbangsihnya terhadap upaya pemajuan perekonomian masyarakat Indonesia secara umum.

Perguruan tinggi di Indonesia juga melihat pentingnya menanamkan jiwa produktifitas dan wirausaha kepada setiap mahasiswanya, sehingga tidak hanya event wirausaha yang digalakan, tetapi ia juga sudah menjadi mata kuliah yang umum di pasarkan bahkan di program studi dan perguruan tinggi tertentu ia menjadi mata kuliah yang wajib ditempuh oleh mahasiswa. Tidak hanya itu saja, skripsi juga sudah mulai digantikan dengan Program Mahasiswa Wirausaha yang tidak hanya meneliti dan membuat paper semata, ia juga harus mempresentasikan usaha yang sudah dijalankannya dan seberapa kreatif dan seberapa berkembanganya usaha yang digelutinya.

Sungguh suatu hal yang harus terus diperhatikan bahkan sudah saatnya pemerintah memaksimal program ini demi kemajuan dan kemandirian perekonomian. Dan semoga dengan data di atas, kita dapat membuka mata dan dapat menjadi bagian di dalamnya sehingga ungkapan Mahasiswa is The Agent of Change, dapat benar-benar teraplikasi dan benar-benar menebar sayapnya bagi perubahan masyarakat menjadi lebih mandiri, maju dan bermartabat.

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 30, 2012 in Economy

 

Rihlah Mumthi’ah

Rencana hari ini begitu lancar dan terbesit kelegaan yang mendalam dari hati ini. satu persatu beban dan target sudah tercapai. bahkan sekat (antara pengurus dan karyawan) yang teramat besar itu bisa dirobohkan sedikit demi sedikit, sudah mulai peduli satu sama lain dan keduanya sudah mulai terlibat di beberapa hal. begitulah idealnya sebuah perubahan, ada target dan langkah strategis dalam menyelesaikannya. bukankah untuk mencapai angka 1000 dimulai dari langkah ke-1 dulu?

 

Ya begitulah, “Rihlah” yang dianggap penting bagi seluruh jajaran pengurus dan karyawan tiap periodenya harus berjalan. namun tetap harus ada manajemen yang baik untuk hal itu. karena esensinya adalah menikmati nikmat Alloh dalam bentuk keserasian alam dan menikmati kekuasaan penciptaannya dengan keberagaman rupa dan warna yang tak satu desainer ataupun kontraktor yang dapat meng-creat sedemikian rupa. dan kemudian mempererat emosi satu sama lain agar kepengurusan dan segala tanggung jawab dapat dilaksanakan dengan nuansa keakraban dan tanpa adanya tekanan, minimal dari intern manajemen terlebih dahulu

 

kali ini tujuannya adalah Pantai Balekambang dan Rumah salah seorang karyawan yang searah dengan lokasi pantai yang kebetulan dari rumahnya tidak begitu jauh untuk menuju ke rumahnya. canda, tawa, riang, dan segala sukacita terpancar dari seluruh peserta rihlah kali ini. karena memang sebelumnya seluruh pengurus dikarantina untuk menyelesaikan persiapan RAT dengan melaksanakan RAB yang membahas SOP, RAPBK dan RENSTRA. luar biasa semangat dan antusias dari seluruh pengurus kala itu dan hingga detik ini aku masih merasakan betapa kuatnya niat dalam hati tiap pengurus untuk melakukan sesuatu yang berguna dan bersifat jangka panjang di hari-hari terakhir kepengurusan.

 

cuacapun juga turut andil dalam menguji kebersamaan dan persatuan dari anggota, pengurus dan karyawan dalam “Rihlah” kali ini. tapi ternyata semua peserta lulus dalam ujian oleh cuaca. kebahagiaan itu kita sendiri yang menciptakannya. jadi, walaupun riakan ombak yang begitu besar menerpa, begitu juga angin laut yang semilir lembut di sekujur badan ditemani oleh tatapan-tatapan kecil dari langit (baca:hujan) yang sdikit demi sedikit mulai memberikan seberkas tetesan pada baju dan wajah, namun aku tetap akan berkata what a beautiful day we have today. .

 

setelah puas, mobilpun menuju rumah salah satu karyawan yang suasananya sudah sangat jarang sekali ditemui. alunan simponi alam yang terdiri dari nada-nada jangkrik dan hembusan angin turut melengkapi hidangan lele goreng+telur rebus dengan urap dan sambal yang jos banget semakin menambah indahnya hari ini. belum lagi kekayaan alam yang sangat bersahabat untuk dinikmati sekitar rumah, ada kelapa muda dengan segarnya air yang ia simpan berbulan-bulan untuk membersihkan bagian dalam tubuh manusia (kepedean hahaha) rambutan dan masih banyak lagi untuk ditulis.

 

tapi ungkapan salah seorang pengurus terkadang ada benarnya, “kopma telah merenggut segalanya dariku” katanya, dan aku sangat setuju karena sebagian jiwaku telah terenggut tanpa kusadari. . .

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 30, 2012 in Kopma Padang Bulan

 

My New Friend (Sepeda Ontel Modern)

Kali ini memang sudah tidak meniatkan untuk mengcilkan badan yang semua orang mengatakan saya terkena obesitas, namun hanya ingin menyalurkan hasrat yang sejak kecil namun redup karena jarak yang lama tidak mempertemukan saya dengan sebuah kendaraan multiusia ini. Sepeda. Masa kecil saya memang seringkali ditemani oleh sepeda merah dengan tempat duduk bonceng di belakang yang sering saya bawa ketika hujan tiba. Memacu sepeda dengan kencang dengan ditemani rintik hujan dan menerobos jalanan yang becek memiliki sensasi bagi anak seumuranku waktu itu.

Walaupun seringkali ketika pulang ke rumah harus memasang kuping tebal karena kena marah sama ibu bapak. Kesal sih, keinginanku selalu terhadang, tapi itulah bentuk kasih sayang mereka karena takut jika anaknya sakit karena hujan-hujanan di luar. Tapi tetap saja kebiasaanku itu terus kulakukan. Haha begitulah anak kecil. Tapi hobi itu harus kusimpan dulu ketika masuk pesantren yang tidak membolehkan membawa sepeda.

Dan sekarang masa kuliahpun tiba, hobi itu masih segar tersimpan segar di file lama yang tidak terhapus atau tertimpa oleh file lainnya. Tapi tahun pertama aku masih belum menemukan alasan yang tepat untuk membeli sepeda (karena kuliah di jawa, jadi harus menambahkan ontel di belakangnnya karena sepeda motor disini sering disebut dengan “peda” atau “sepeda” beda dengan orang sumatera yang kebanyakan menyebutkan sepeda motor dengan “kereta”).

Tapi begitu masuk tahun kedua, aku mulai mencari-cari alasan yang tepat bagi diriku sendiri untuk membeli sebuah sepeda, karena tidak cukup dengan alasan saja, aku juga harus memutar otak untuk menabung agar bisa membeli dengan uang sendiri. Dan momen itupun datang, Alloh mendengar do’aku dan menjawabnya. Kala itu aku dapat penghargaan sebagai 10 mahasiswa terbaik dalam program pengembangan bahasa arab. Dan lumayan, 1000 Riyal diberikan kepada masing-masing mahasiswa. Dan pada saat yang sama, teman sesama pengurus di kopma punya paman yang sedang butuh uang dan menjual sepedanya. Tok, keputusanku bulat, membeli sepeda paman temanku yang sedang membutuhkan uang. Dan tak kubayangkan betapa senang hatiku saat itu.

Sepeda itu warnanya dominasi merah dengan hitam seadanya. Mereknya united. Aku suka merek itu karena maknanya adalah bersatu. Hehe. Tapi menurut teman-temanku yang ahli soal sepeda, jenis sepeda yang kumiliki itu sangat bagus, sesuai dengan penjelasan paman temanku saat transaksi jual beli berlangsung. Awalnya aku biasa aja menanggapi itu semua, tapi ternyata terbukti benar. Rangkanya, peleknya, dan keseluruhan bagus. Senangnya hati. Ditambah lagi dengan bonus kaos gowes dan tempat air minum di badan sepeda yang membuat niatku untuk melaju bersama sepeda baru stok lamaku semakin mantab.

Hari pertama gowes kutujukan keliling-keliling kota Malang sabtu pagi ditemani teman-teman membuat kesan tersendiri bagi hati ini. Kayuhan kakiku terasa mantab dan lantang saat melintasi jalanan kota. Alun-alun bunder yang indah dengan pesona lanskapnya dan ditambah dengan sosok bangunan Balai Kota Malang yang menambah suasana klasik modern menjadi tujuan pertama episode ini, kemudian melaju kembali ke jalanan ijen dengan masuk ke stadion Gajayana terlebih dahulu. Tidak lama, karena ketemu petugas langsung ditegur karena sepeda tidak diperkenankan masuk stadion. Dengan setengah hati melaju kembali masuk ke kawasan kampus UM melalui pintu kecil di samping kantor Bea dan Cukai kota Malang dan langsung kembali ke kontrakan.

Sambil baca Koran tak terasa mata terasa mengantuk dan akupun tertidur..

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 29, 2012 in My Life

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
 
1 Comment

Posted by pada Januari 29, 2012 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.